
Tahun ini KINOKI memiliki KINOLOGI, serangkaian diskusi-mini film yang diselenggarakan dua kali sebulan dengan materi yang berkesinambungan. KINOLOGI merupakan kelanjutan dari kelas-kelas menonton KINOKI yang sebenarnya sudah berlangsung sejak dulu, namun kemudian ditransformasikan kedalam bentuk yang baru dengan materi yang disesuaikan pula. Pada kesempatan pertama, KINOLOGI membahas mengenai narasi dengan studi kasus film Bad Timing (Sutradara: Nicolas Roeg, 1980).
Setiap menonton film, umumnya kita tertarik pada hal-hal yang bersifat khusus: genre, dekorasi interior, motif warna, dan semacamnya. Secara umum, hal-hal ini kemudian kita jadikan petunjuk untuk mengenali plot film yang kita tonton lalu mengidentifikasi ceritanya secara keseluruhan dan pada akhirnya meresapi ‘sebuah-dunia-besar’ tempat cerita tersebut berasal, lengkap dengan kodifikasi sosio-kulturalnya. Film Noir misalnya, umumnya bergenre mirip dengan film kriminal, mimik-mimik yang serba mencurigakan, serta low-key lighting (pencahayaan lemah) yang mendominasi. Dari situ kita bisa mulai terbiasa lalu mengikuti cerita, mengenali karakter sampai pada akhirnya kita mengerti: film ini didasarkan pada dunia yang seperti apa.
Narasi umumnya banyak diasosiasikan dengan cerita pada umumnya, dan plot pada khususnya. KINOLOGI berkesempatan menggunakan referensi dari buku karya David Bordwell, Poetics of Cinema, yang sangat detil menggambarkan narasi sebagai plot dan cerita. Cerita bisa diklasifikasikan antara lain atas unsur komunikasi dan pengaruh pengalaman. Dari hasil komunikasi inilah orang sering menggumam “Wah, nih film ada pesannya, nih”. Sebab memang secara alamiah, komunikasi menggunakan pesan sebagai objek utama dalam prosesnya. Unsur pengalaman sebaga ranting tersendiri kemudian bisa dipecah menjadi beberapa hal yang umumnya sangat personal: memori, emosi, dan sensasi.
Dalam terminologi klasiknya, narasi cerita seringkali dibagi menjadi lima: exposition, rising, climax, falling action, dan denouement. Eksposisi umumnya berisi deskripsi dan pengenalan, rising menceritakan tentang apa yang harus ‘dihadapi’ oleh para karakter, climax adalah puncak konfrontasi antara karakter dan masalahnya, falling action adalah fase penurunan, dan denouement adalah tahap ketika dunia cerita kembali stabil, bisa kembali seperti semula ataupun berubah sama sekali. Struktur narasi seperti ini sudah digunakan dalam banyak sekali film dan novel. Disini Bad Timing menjadi menarik sebab film ini tidak bisa terbaca menurut struktur diatas sebab ada semacam deviasi plot yang menyebabkan penonton kesulitan untuk menebak yang mana plot sebenarnya, dan pertanyaan ini tetap menganga tak terjawab hingga film berakhir. Disini kita langsung menyadari bahwa film bukanlah sekedar cerita-novel-yang-diangkat-ke-layar. Film memiliki kekuatannya sendiri yang sama sekali koheren. Dalam novel, seorang karakter hanya akan menjadi karakter secara verbal. Namun dalam film, karakter haruslah diintegrasikan ke dalam seorang aktor yang memerankannya. Cerita yang bisa diurai dalam kata – kata (dalam novel), haruslah disampaikan lewat banyak sekali unsur (dalam film) yang kemudian melahirkan hipotesis bahwa narasi sebenarnya bukan hanya cerita saja melainkan juga melingkupi mise-en-scene, angle, psikologi karakter, dan pilihan-pilihan stylistic lainnya. Inilah yang seringkali luput dari perhatian pada Naratolog, pun David Bordwell dan Kristin Thompson, yang teorinya beberapa kali dinukilkan dalam diskusi.
Oleh karena itu, di kesempatan selanjutnya, KINOLOGI akan mengeksplorasi komponen- komponen narasi. Bukan hanya atribut cerita saja, melainkan setiap kemungkinan yang bisa terkandung dalam sebuah film. Tentunya dengan studi kasus yang relevan dan jauh lebih menarik.
No comments:
Post a Comment