Tuesday, April 3, 2007

Menjadi Manusia Lewat Film B

Oleh Adrian J. Pasaribu

Banyak opini berbeda untuk menjelaskan arti film B, tapi hanya ada satu definisi resmi mengenai istilah tersebut. Film B adalah film pelengkap yang mendampingi film atraksi utama di bioskop-bioskop. Dalam perkembangannya, film-film tersebut memperoleh suatu set keunikannya sendiri. Coba bayangkan film-film monster dan horror murahan yang sering diputar di TV tengah malam. Bayangkan juga karakter film Indonesia macam Suketi dan Gundala Putra Petir. Lalu coba ingat judul-judul absurd yang pernah anda dengar sepanjang hidup anda, seperti I Married a Monster from Outer Space atau Attack of the 50-feet Woman. Seperti itulah film B: berbujet rendah, formulaik dan seringnya menonjolkan premis fantastis yang menembus nalar serta dialog sok cerdas yang mungkin dapat membuat Anda kebelet lari ke toilet untuk teriak ‘AAAHHH’.


Lalu apa yang bisa kita harapkan dari film seperti itu? Tidak banyak memang. Selain anda (mungkin) akan merasa dilecehkan secara intelektual, bisa jadi anda hanya membuang-buang waktu saja. Namun, film bukanlah makalah ilmiah; tidak selamanya apa yang muncul di layar kaca harus berbasis logika. Bukankah saat kecil dulu kita begitu menggandrungi Power Rangers, Dragon Ball, Kho Ping Ho ataupun Goosebumps? Bukankah semua itu anti-logika? Kenapa kita dulu bisa menyukainya? Karena saat itu kita hanya menginginkan sensasi yang dihasilkan cerita-cerita tersebut. Kita tidak peduli dengan berapa hukum fisika yang dipecahkan Songoku dan awan terbangnya, kita lebih tertarik dengan petualangan dan interaksi karakter-karakter unik di dalamnya. Cerita-cerita seperti itu terasa begitu berkesan bagi imajinasi anak kecil kita yang masih suci dari jamahan sains. Tanpa disadari kita seperti ditarik masuk ke dalam dunia imajiner itu dan mulai bersimpati dengan apapun yang terjadi didalamnya; seakan-akan kita adalah bagian dari cerita tersebut.

Sensasi masa kanak-kanak itulah yang ingin dihidupkan kembali oleh para sineas film B. Mereka copy-paste karakter-karakter unik yang pernah mewarnai masa kecil kita: mulai dari jagoan maskulin, gadis seksi, penjahat bermuka dua, psikopat berkostum, arwah gentayangan, monster raksasa hingga makhluk luar angkasa. Lalu karakter-karakter tersebut dikemas dalam interaksi serta eksplorasi lintas batas menembus dunia horror yang kelam, hutan prasejarah, planet antah berantah hingga distopia masa depan. Pada akhirnya ide yang disusun itu diwujudkan dalam semangat spontanitas demi mengakali batas-batas teknis yang menghadang. Hasilnya pun bisa dibayangkan: film sarat imajinasi dalam kemasan rombengan warna-warni. Lima belas menit pertama mungkin anda heran kenapa bisa tertarik dengan sampah murahan ini. Namun, sejam kemudian anda sudah terlalu mabuk fantasi untuk mempedulikan semua itu.

Di saat Hollywood kian giat merasionalisasikan alam dan perasaan manusia, produsen film B dengan setia menyadarkan kita tentang adanya dunia lain di balik dunia yang kita tempati. Film B bukanlah eskapisme dari realita kehidupan yang menjemukkan, melainkan taman bermain dimana anda bisa membiarkan anak kecil dalam diri anda bebas berlarian. Anak kecil inilah sumber emosi serta imajinasi dalam semesta biologis kita.

(penulis adalah anggota komunitas menonton)

No comments: