Untuk kita yang menonton film sebagai “film”, bukan hiburan belaka, mungkin Tim Burton menjadi sutradara yang film-filmnya bakal dihindari. Namun bukan berarti film-film Tim Burton cuma menjadi tontonan kacang goreng tanpa arti. Lewat 4 filmnya: Edward Scissorhands, Ed Wood, Mars Attack, dan Sleepy Hollow, terungkaplah apa sebenarnya film-film Tim Burton. Khusus untuk Ed Wood, film ini bisa ditempatkan secara khusus karena pendekatannya berbeda.
Modal utama Tim Burton bisa dibilang berangkat dari keliarannya dalam berekspresi. Tokoh Edward “si tangan gunting” misalnya, lahir dari imajinasi liarnya. Auranya dibuat gelap dan wujudnya berantakan. Dengan lingkungan warga sekitar yang berwarna, Edward jadi terlihat sebagai sosok yang aneh, manusia entah dari negeri mana. Dalam film Mars Attack, wujud alien jauh berbeda dengan alien-alien lain yang muncul di film sci-fi lainnya. Imajinasi Tim Burton berhasil membuat kita bukan takut melihatnya, tapi malah tertawa. Untuk film Sleepy Hollow, Tim Burton mencoba mengangkat novel berjudul sama. Namun bumbu-bumbu imajinasinya masih dapat terlihat, dari wujud hantu pembantai tak berkepala sampai hal-hal kecil seperti peralatan dokter yang terlalu canggih.
Tema yang diangkat Tim Burton terkadang terlihat murah layaknya ceritera dongeng. Namun Tim Burton berhasil mengeksplorasinya. Tema-tema Frankenstein dimana ada manusia yang dipandang berbeda menjadi tema awal Edward Scissorhands. Namun Tim Burton seolah menciptakan antitesisnya dengan memunculkan momen-momen saat tokoh tersebut bangkit, berhasil menyalurkan hasratnya, dan menjadi seniman kreatif. Tema alien yang sedang booming di pertengahan ‘90-an, diangkat dengan hasil yang benar-benar berbeda. Lewat Mars Attack, Tim Burton menunjukkan sisi-sisi parodi dari alien. Mulai dari suara UFO yang lebih mirip suara mixer, sampai pistol alien yang lebih mirip pistol air.
Uniknya Tim Burton selalu memasukkan kecenderungan ikonoklastik baik pada tokoh antagonis maupun protagonisnya. Seolah-olah ada kritik pribadi yang muncul dalam skenario. Pihak negara dalam Mars Attack misalnya, ditampilkan sebagai pecinta perdamaian yang sia-sia, tidak mampu melakukan tugasnya, dan tewas di tangan alien si tokoh antagonis. Di Sleepy Hollow giliran pihak gereja yang ditampilkan sebagai pihak yang “tidak berguna” dan akhirnya dihancurkan dari dalam oleh tokoh antagonis cerita. Sumbangan kritik ini menjadi bumbu-bumbu pemanis film-filmnya.
Ed Wood bisa dibilang sebagai film yang paling ngganjel bila dibandingkan film-film Tim Burton lainnya. Pendekatan yang digunakan adalah biografis, dalam konteks ini adalah biografi Edward D Wood, Jr. (sutradara yang dihujat terburuk sepanjang masa). Namun bukan berarti tak ada artinya. Lewat film ini Tim Burton seolah menunjukkan apa “agama” yang dianutnya sebagai sutradara. Agama film dimana penuh dengan monster, darah hijau, keanehan, atau lebih tepatnya film kelas B. Sebuah manifesto diri sebagai sutradara dengan gaya khas tertentu.
Dari sisi teknis, film-film Tim Burton bisa ditebak pasti berbiaya mahal. Untuk setting tempat, Tim Burton seolah menciptakan dunia baru. Dalam Edward Scissorhands misalnya terlihat kastil yang gelap dan perumahan yang warna-warni, sedangkan dalam Sleepy Hollow benar-benar dimunculkan sebuah kota ber-aura iblis. Untuk visualisasi animasi, teknik-tekniknya terlihat canggih. Yang patut diacungi jempol adalah tata riasnya yang beberapa kali meraih Oscar.
Bicara tentang Tim Burton rasanya tidak boleh melupakan anak emasnya, Johnny Depp. Seakan telah menyatu dengan imajinasi Tim Burton, Johnny Depp selalu sukses memerankan tokoh-tokoh utama yang bisa dibilang aneh. Mulai dari peran manusia bertangan gunting, sutradara yang gila, sampai dokter penakut. Kontribusi Johnny Depp bisa dibilang cukup besar dalam mengangkat nama Tim Burton.
Tapi dalam usaha mengapresiasi film sebagai “film”, mungkin karya-karya Burton bukanlah tontonan spesial. Salah juga bila kita golongkan film-film Tim Burton sebagai film kelas B. Dari segi isi, film-film Tim Burton pantas untuk dikategorikan sebagai film kelas A. Namun melihat gayanya, mungkin lebih tepat kalo Tim Burton dikategorikan sebagai sutradara film bergaya B.
Irham Nur Anshari,
Komunitas Menonton Kinoki
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment