‘Indonesian Comedy Cinema Retro’ adalah, pertama, sebuah tribut untuk film-film komedi negeri ini pada era 1980-an. Banyak dari film-film ini sudah begitu akrab bagi masyarakat lokal dan acap kali diputar ulang di tayangan stasiun televisi swasta siang hari sekarang ini. Dan memang siapa yang bisa melupakan komedian-komedian legendaris Indonesia terutama yang sekarang telah almarhum seperti Benyamin Suaeb, Freddy Aries alias Gepeng, Wahyu Sardono alias Dono Warkop, Kasino, S. Bagyo, sampai ke sutradara Nyak Abbas Akup.
Karya-karya dan hasil kerja mereka berkesan dan tak terlupakan, meski seringkali juga dipandang sebagai sesuatu yang trivial dan hiburan dangkal semata. Celetukan-celetukan seperti ‘Gila kamu nDro!’, ‘Untung Ada Saya’ atau ‘Makdikipe!’ yang acap terlontarkan di lingkungan sosial lintas generasi sebenarnya menjadi potongan-potongan refleksi bagaimana film-film dan juga hasil karya lainnya seperti kaset rekaman lawak, lagu-lagu dan sebagainya dari para sineas komedi ini telah menjadi dan menjadi bagian integral dari memori kolektif bangsa ini.
Yang terakhir tersebut berhubungan dengan tawaran kedua dari acara ini, pembacaan kembali teks dan subteks dari film-film tersebut, yang intinya membahas relasi antara tema film-film komedi pada masa 80an dengan perkembangan awal masyarakat urban di Indonesia. Mulai dari membangun karakter sense of humour dalam konteks lokal dengan logika bengkoknya yang mungkin tak tertandingi oleh serbuan sitcom Amerika yang mana pun, sampai menjadi dokumentasi akan warna-warni kehidupan masyarakat kampung dan kota di Indonesia pada masa awal pembangunan menuju ‘kehidupan modern’.
Untuk acara ini, akan diputar 3 film yang menjadi sample dari sinema komedi generasi ini, dengan seleksi dan kurasi oleh Lisabona Rahman dari Kineforum Dewan Kesenian Jakarta. Kelima film yang dipilih adalah yang setidaknya dianggap bisa mewakili gagasan yang hendak ditawarkan oleh acara ini, meski juga tak mungkin dapat menunjukkan begitu luasnya dimensi yang begitu kaya dari geliat sinema komedi Indonesia pada era tersebut, mulai dari lowbrow humour dan slapstick a la Warkop sampai ke dagelan satir yang sarat ironi seperti pada karya-karya Nyak Abbas Akup atau Chaerul Umam. Pembahasan secara menyeluruh akan dilakukan pada saat diskusi dengan pembicara Lisabona sebagai kurator film dan mewakili Kineforum serta Masyarakat Film Indonesia, dan Antariksa dari Kunci Cultural Studies sebagai penanggapnya.
Acara ini juga akan dimeriahkan dengan launching T-shirt poster komedi lawas Indonesia dari Kineforum, yang hasil penjualannya akan digunakan untuk menyumbang konservasi arsip film di Sinemathek Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail Jakarta, serta musik kompilasi lagu-lagu komedi ‘80an dari DJ Lombok Horor dan Latex.
Sebagai sebuah lembaga arsip dan riset seni visual yang sangat mendukung segala jenis upaya pelestarian dan pemberdayaan kembali data dan artefak medium visual di Indonesia, Indonesian Visual Art Archive (IVAA) menjaring kemitraan dengan Kinoki sebagai tuan rumah acara ini dan juga Kineforum yang sedang mengupayakan pemberdayaan arsip film di Sinemathek PPHUI. ‘Indonesian Comedy Cinema Retro’ juga dimaksudkan sebagai bagian dari kampanye penyadaran akan pentingnya konservasi arsip film sebagai salah satu aset kultural berharga yang kita miliki, termasuk juga film-film komedi lawas yang telah melekat di hati masyarakat Indonesia.
Mengutip pepatah ikonik Warkop, Tertawalah Sebelum Tertawa itu Dilarang. Melalui tribut atas film-film komedi lawas ini, kami berharap untuk mengajak audiens untuk tertawa lagi bersama para legenda komedi ini dengan kacamata yang berbeda.
Farah wardani-IVAA
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment