Keluarga adalah sebuah sistem dengan chaos sebagai pemantiknya. Ia lahir dari ketidakteraturan: pertemuan dua individu yang masing-masing distingtif. Fusi keduanya melahirkan individu baru, ketidakteraturan baru. Dalam jangka waktu tertentu, entitas tersebut berkembang dan mengalami bifurkasi menuju dua ekstrim: chaos yang sangat hierarkis atau chaos yang benar-benar chaos. Bila berada di antara keduanya, keluarga tergolong normal. Bila berada di salah satu polar itu, keluarga disebut disfungsional. Kinoki memutar film-film keluarga disfungsional: American Beauty, Saraband, Monsoon Wedding, Sunshine, Les Invasion Barbares, dan Ordinary People. Yup, gangguan bisa datang dari luar maupun sudah ada dari dalam, menahun atau tiba-tiba. Dan biasanya berkumpul, pada momen-momen atau hari-hari tertentu menjadi klimaks—tragis atau gembira, sukses atau tidak—yang menentukan arah keluarga tersebut.
Keluarga tak lebih dari manajemen chaos. Saat batas antar anggota keluarga terlalu dekat atau terlalu jauh, saat terlalu banyak atau terlalu sedikit konflik, saat kontrol terlalu terpusat atau tidak terkontrol sama sekali, keluarga stop berfungsi normal. Normalitas hanya eksis saat segalanya seimbang, saat individu mau berkompromi dengan individu lainnya dalam keluarga. Namun keseimbangan merupakan kondisi yang temporer dalam keluarga, karena chaos adalah faktor internal yang akan selalu muncul.
Maka naif rasanya membayangkan suatu potret keluarga yang ideal ala Keluarga Cemara: bapak yang bijak, ibu yang perhatian, anak yang taat, hanya dunia luar sana yang kejam dan menyesatkan yang dapat merusak harmoni keluarga, bla bla bla. Lupakan itu. Bila utopia memang ada, keluarga adalah hal terakhir yang bisa dikaitkan dengan kata itu. Justru karena chaos, keluarga disebut keluarga.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment