Kemunculan film-film neo-noir belakangan ini menjadikan istilah ‘noir’ sangat ambigu. Pada awalnya term noir hanya berlaku bagi film-film Hollywood pasca Perang Dunia II, tepatnya antara era 40an dan akhir 50an. Perluasan ini praktis menimbulkan sejumlah pertanyaan: apa sebenarnya definisi ‘noir’? Gaya visual? Genre? Atau kategori?
James Naremore, pengamat film, berpendapat film noir adalah ‘suatu label yang mewakili suatu jaringan ide’. Ada fleksibilitas serta kekuatan mitis dalam konsep noir yang tidak saja berpengaruh bagi sejarah film tapi juga dipengaruhi sejarah itu sendiri. Akibatnya, ide dalam film noir dinamis seiring berdetaknya waktu.
Pada dasarnya film noir adalah kritik sosial. Suatu kecaman yang lahir saat American dream berubah menjadi visi kekerasan yang suram. Paranoia politik serta disorder sosial menjadikan kesinisan film noir terasa pas. Pada era 40-50an yang penuh asasinasi serta gerakan kounterkultur, film-film noir saat itu didominasi oleh tema deprivasi moral. Lantas apa yang film neo-noir bicarakan tentang masa sekarang?
Konsumerisme, itu jawabannya. Di kala masyarakat kian memuja media dan hidup makin komersil, tepat rasanya film neo-noir menjadikan kultur konsumerisme sebagai sasaran tembak. Sudah menjadi pakem film neo-noir untuk menampilkan karakter utama yang ambigu secara moral dan memiliki hubungan tidak sehat dengan sistem sosial yang kapitalis serta hedonis. Protagonis pun terpaksa menentukan pilihan dalam keputusasaan dan kode moral yang nihilistik.
Memang konsumerisme bukan elemen baru dalam film noir. Bukankah film-film gangster era 40an seringkali dicirikan dengan bos mafia berjas mewah serta wanita bergaun mencolok? Namun itu semua hanya periferi semata, batu loncatan bagi film noir klasik untuk menembak target yang lebih besar. Neo-noir, sebaliknya, malah mengganti simbol-simbol royalitas tersebut dengan setting kota kecil atau sudut metropolitan yang kumuh sambil mengkritisi budaya konsumerisme modern. Teknik yang cukup cerdas, bukan?
Neo-noir tak ubahnya karikatur suram kehidupan kita. Oleh karena itu, silakan ambil kursi dan nikmati getir hidup lewat layar kaca. Welcome to neo-noir!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment