Ternyata pekerjaan editing yang menuntut kecermatan mata dan telinga di depan komputer terusmenerus juga sedikit tidur tidak menjadikan mulut mereka -para editor itu- menjadi malas berbicara. Tidak percaya?
Pada tanggal 2 Oktober lalu, berawal dari gagasan yang spontan, Kinoki mengadakan temu editor dengan menghadirkan Aline Jusria, editor perempuan yang sudah menikmati berlamalama duduk di dapur editing pada sejumlah produksi film.
Meskipun tidak semua yang hadir adalah editor, pembahasan forum berbagi ini tidak pernah keluar dari segala seluk beluk editing. Di mulai dari pemaparan Aline menggeluti dunia editing semenjak tahun 1999 beserta sukadukanya, beberapa pertanyaan dan respon pun menyambut. Misalnya Ichan (Zeroshit) yang sempat mengemukakan pendapatnya dengan nada mengeluh. Ia menceritakan perbedaan pengalamannya ketika bekerja sebagai editor di Jakarta dan di Jogja. Ketika bekerja sebagai editor film di Jakarta, ia bisa mendapat batasan kerja yang jelas. Hal itu yang jarang sekali ia dapatkan di Jogja. (Yeah.. lagi, lagi dan lagi). Akan tetapi pendapat tersebut sedikit terbantah oleh Greg Arya (Fourcolours). Ia cukup puas dengan pekerjaannya sebagai editor film di Jogja. Karena selama ini, setiap produksi film yang melibatkannya selalu memberikan batasan kerja editing yang jelas.
Setelah dirasa terlalu cair karena kesepakatan sebelumnya tidak menghendaki adanya moderator, format forum diubah sesudah break buka puasa. Inisiatif personal muncul dari salah seorang peserta. Senoaji (Fourcolours) menawarkan diri duduk disebelah Aline guna memposisikan dirinya sebagai moderator. Ritme forum pun mengalir lebih teratur dan berderap, fuih!
Dari pengalaman Aline ketika mengedit film Eagle Awards, ia bertutur tentang “perseteruannya” dengan sang sutradara Rute Menantang Bahaya. Ketika itu, sebagai editor ia merasa stok gambar yang telah diambil tak akan mampu membentuk cerita jika tetap ingin menuruti keinginan sutradara. Ia bersikeras dengan pendapatnya, hingga akhirnya sutradara pun mengikuti sarannya. Pengalaman Aline ini disambung oleh Yuli Andari (Jogjakarta). Ia mengamini pemaparan Aline, dan menyebutkan bahwa fungsi editor itu juga bisa sebagai mata ketiga. Yuli menambahkan hendaknya sebagai seorang editor tidak melulu menuruti keinginan sutradara, karena fakta yang telah terekam itu kadang dengan cepat bisa berubah, khususnya pada produksi film dokumenter. Dan Oyi (Jakarta) yang diawal sempat asyik memotret tak mau kalah menimpali, “ Kerja-kerja editing itu terbagi menjadi dua golongan, yaitu editor dan operator. Terserah kalian pilih yang mana”.
Menjelang waktu pemutaran film di bukanbioskop, forum yang dihadiri sekitar 20-an sineas Jogjakarta ini ditutup setelah Aline dan Oyi sedikit mensosialisasikan adanya rencana pembentukan semacam asosiasi editor berskala nasional.
jadi, tentukan pilihanmu wahai para editor!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment