Sunday, October 7, 2007

Keserakahan: mulai dari mana?

Oleh: Della Martha

Bulan Ramadhan adalah simulasi kehidupan di dunia. Satu hari ibaratnya setahun dalam kehidupan. Siang ibarat bulan Ramadhan, di mana orang berusaha menunaikan ibadah, mengalahkan nafsu, dan menabung untuk keperluan akhiratnya. Sedangkan malam hari di saat orang-orang tak lagi berpuasa ibarat sebelas bulan lain di luar Ramadhan.
Di bulan ini Kinoki mengangkat film-film dengan tema keserakahan. Di Film Devil’s Back Bone keserakahan itu diwakilkan oleh emas. Ia menjadi pemicu utama konflik di rumah penampungan tua di mana salah seorang penghuninya yang telah dibutakan oleh harta berusaha menguasainya seorang diri. Unsur perempuan juga diangkat di film ini bukan dalam konteks tujuan, melainkan sebagai sarana di mana orang tersebut rela mengorbankan “wanita-wanitanya” demi memperoleh emas yang berlimpah. Hati tidak lagi berfungsi karena nafsulah yang terlanjur memegang kendali. Nyawa orang lain dianggap barang tak berharga sehibngga dengan mudahnya ia mencabutnya. Kisah yang sama juga muncul dalam film Wall Street yang bercerita tentang obsesi seorang broker yang seumur hidupnya berusaha berurusan dengan dua makhluk ajaib bernama uang dan saham. Merasa tak cukup dengan kehidupan yang ia miliki, sang broker mengejar mengejar kedudukannya yang lebih tinggi lagi sehingga tak segan mengorbankan kepentingan orang lain dengan harapan, tahta tinggi di tangan, harta berlimpah di tabungan. Dan saat kedua hal itu telah didapatkan, maka sangatlah mudah baginya untuk memperoleh wanita. Namun jangan lupa, apa yang mengangkatnya dapat pula menjatuhkannya. Apalagi semakin tinggi ia berada maka semakin sakit pula jatuhnya. Terlebih lagi untuk orang-orang yang beranggapan bahwa keserakahan untuk dunia yang lebih bagus itu baik (diambil dari kata-kata Gordon Gekko).
Harta, tahta wanita trilogi ujian yang jauh lebih berat jika dibandingkan ujian porsi makan. Dalam mengejar ketiga hal itu, satu hal yang perlu diingat, berhenti sebelum semuanya menjadi berlebihan karena tak akan ada kebaikan yang muncul dari sesuatu yang berlebihan, seperti halnya ajaran untuk berhenti makan sebelum kenyang. Ketika tak ada lagi kata cukup, maka seterusnya keserakanlah yang berkuasa.

No comments: