New wave disini dan new wave disana. Periode antara 1950-1960an di seluruh dunia seperti sedang berusaha membuat dan meneguhkan tiang pancang atas New Waves yang mereka yakini. Tidak seluruh dunia sebenarnya, dan juga, bukan semua orang. Eropa barat dan anak mudanyalah yang bergerak.
Walau mendapat pengaruh besar dari gerakan NeoRealisme Italia dan diuntungkan oleh perkembangan teknologi yang memungkinkan kamera untuk dijinjing berkeliling kota, Nouvelle Vague, atau gerakan New Wave Prancis adalah salah satu yang paling bertahan sampai saat ini. tetap ditonton, diperdebatkan, ditulis dan dikata-katai “basi! Mau ngomong apa lagi dari Nouvelle Vague?”
Pertanyaan yang lebih relevan untuk diskusi kita kali ini adalah “benarkah new wave se-basi itu, hingga tak ada lagi yang dapat dibicarakan?” Melalui parade karya François Truffaut, salah satu eksponen utama Nouvelle Vague, kita bisa mencari ulang berbagai hal yang pernah ditetapkan oleh gerakan ini, baik secara estetika sinema, filosofi maupun politis.
Berangkat dari hal itu, Kinoki dan LIP mengadakan diskusi ‘New Wave yang Pop’ bertempat di Kinoki, 25 Februari 2008 pukul 21.00, dengan pembicara Muslikh Madiyant dari Pusat Studi Kebudayaan UGM dan Frederic Alliod dari Atase Video Visual Kedutaan Besar Prancis, dimoderatori oleh Elida Tamalagi programer bukan bioskop Kinoki. Diskusi ini merupakan salah satu rangkaian program hasil kerja sama LIP dan Kinoki selama Februari dengan terlebih dahulu menghadirkan pemutaran film-film karya François Truffaut di cineLIP dan bukan bioskop Kinoki.
Diskusi ini dibagi menjadi dua sesi utama: Muslikh Madiyant membahas mengenai konteks sosial politik ketika new wave itu hadir dan Frederic Alliod membahas mengenai teknik dan estetika dari new wave. Sedianya ada satu lagi narasumber yang diundang yakni Cahyo Inda dari Akindo tapi karena alasan non teknis, maka beliau tidak dapat hadir pada malam itu.
New wave hadir di Prancis dimaksudkan untuk ‘mendobrak’ tradisi sinema prancis yang waktu itu telah mapan. Aktor profesional, kostum yang tertata dan disiapkan sedemikian rupa, set dan dekor yang sempurna ‘well prepared’ , kualitas yang sangat terjaga mutunya. Film menjadi sangat industrialis. Menjadi sangat mekanis. Hal itu menjadi semacam bahan olok-olok untuk para eksponen new wave. François Truffaut sendiri memandang sinis pada tradisi sinema Prancis yang sangat industrialis waktu itu. Berangkat dari kegelisahan itu, ia dan para eksponen lainnya yang waktu itu tergabung dalam kelompok Cahiers du Cinema (Claude Chabrol, Jean-Luc Godard, Jacques Rivette, Eric Rohmer dan François Truffaut sendiri) membuat film yang mendobrak tatanan sinema tradisional Prancis. Pendek kata, gerakan ini ingin mematahkan semua kualitas yang terlalu baik itu. Mereka memiliki semacam kredo bahwa “film adalah bukan hanya sebagai media hiburan, film adalah ekspresi”. Sebagai ekspresi, film tidak hanya melulu menampilkan semua yang serba baik itu. Berangkat dari hal itu, dalam setiap filmnya, mereka memindahkan realisme kehidupan sehari-hari ke dalam film. Para aktor yang tidak profesional kerap digunakan dalam film-film mereka, biaya murah, kamera seadanya, kostum seadanya. Mereka cenderung memfilmkan apapun yang mereka temui dengan turun langsung ke jalan. Hal ini merupakan pengaruh dari neo realisme italia. Tokoh dalam film mereka tidak hanya manusia tapi bisa kota, jalan, tembok, monumen, apapun. Semua mampu berkisah. Ini agaknya sejalan dengan filosofi dan idealisme para eksponen new wave itu sendiri yang ternyata sangat terkait erat dengan eksistensialisme. Pada tahun 1950an, Sartre sebagai lokomotif utama mengibarkan eksistensialisme dan agaknya para eksponen new wave ini merupakan salah satu umat setia.
Secara teknis, para pembicara sepakat, bahwa gerakan ini memiliki bahasa sinematografis yang sangat tertib serta mementingkan dialog. Hal ini dapat dimaklumi karena mereka berangkat dari tradisi tulis. Sebuah kontradiksi yang dipandang menggelikan, karena sangatlah tidak mungkin ketika mereka memfilmkan orang-orang dalam kesehariannya tapi menggunakan bahasa dan dialog yang begitu tertata rapi.
Dari segi kritik, sampai saat ini belum ada yang mampu mematahkan mereka. Sampai sekarang, gaya gerakan ini masih menjadi pegangan sutradara-sutradara terkenal seperti Wong Kar Wai, david Lynch, George Lucas, Steven Spielberg, Martin Scorsese. Bahkan sutradara Indonesia macam Syuman Djaya dan Teguh Karya juga terinspirasi oleh gaya gerakan ini.
Diskusi malam itu dihadiri oleh sekitar 17 orang dari berbagai komunitas. Sebelum diskusi dimulai, terlebih dahulu diputar film Histoire d’eau (cerita tentang air) karya François Truffaut, kemudian baru masuk ke dalam sesi diskusi. Diskusi sejatinya cukup menarik, hanya saja entah karena waktu mulai sudah terlambat atau karena alasan lainnya sehingga menyurutkan animo peserta untuk bertanya atau hanya sekedar berkomentar atau membandingkan pengalamannya ketika menonton film-film new wave. Dari sekian peserta hanya tiga orang yang bertanya. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul berkisar mengenai: 1) adakah kritik yang mampu mematahkan mereka, 2) adakah new wave seperti aliran dadaisme di seni rupa yang menonjolkan paradigma tertentu selain segi estetisnya, 3) nama new wave tersebut sangat problematik karena nama itu berasal dari pers, 4) kemudian gaya penceritaan masing-masing dari eksponen itu sendiri yang berbeda-beda, apakah penyatuan mereka dalam satu ‘bendera’ new wave tidak menimbulkan penyamarataan terhadap karya-karya mereka?, 5) dari aspek ekonomi, bagaimana mereka menyiasati hal tersebut? Adakah itu terkait dengan gelombang booming new wave yang hanya sebentar?
Menurut Frederic, mereka –para eksponen new wave tidak bisa disatukan begitu saja dalam satu bendera karena mereka memiliki gaya penceritaannya sendiri-sendiri yang unik dan khas. Chabrol lebih sosiologis, godard lebih politis, eksperimental, anarki. Benang merahnya adalah preferensi estetisnya yang menolak semua “kualitas” dari film terdahulu. Lagi, menurut Frederic –menjawab pertanyaan selanjutnya, film-film gerakan new wave ini semacam tonggak bagi film-film independen yang berbiaya rendah tapi memiliki idealisme yang bicara dalam setiap filmnya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment