Thursday, March 20, 2008

Diskusi Perempuan Punya Cerita dan Selimut Dalam Kolong @Kinoki

Perempuan Punya Cerita: melihat perempuan melalui film

Perempuan Punya Cerita (Chant of Lotus) uncensored ternyata jadi mampir juga ke Jogja dalam rangka hari Perempuan Internasional yang diperingati pada tanggal 8 Maret kemarin, ditemani oleh Selimut dalam Kolong. Acara ini merupakan kerja sama Kinoki, The Body Shop dan Kalyana Shira Films. Banyak yang sudah menunggu film ini, terlihat sekali dari membludaknya penonton di kinoki. Bahkan sampai bioskop penuh sesak, serasa gang senggol. Sekitar 70an penonton memadati bioskop kinoki, bahkan ada yang rela menonton di luar. Hujan yang turun semenjak siang ternyata tidak menyurutkan niat teman-teman untuk datang menonton. Dibelabelain pokoknya.

Selain pemutaran PPC, sebelumnya diputar film dokumenter pemenang lomba film dokumenter tingkat SMU yang diselenggarakan oleh The Body Shop berjudul “Selimut dalam Kolong” dari SMUN 14 Jakarta. Setelah dua film tersebut dilanjutkan sesi diskusi yang membahas mengenai memandang perempuan melalui film dengan narasumber Vivian Idris, co-produser dan salah satu penulis skenario dalam Perempuan Punya Cerita (ia menulis skenario Cerita Pulau dan Cerita Yogya), Lasya (sutradara Cerita Jakarta), Bonnie (KalyanaShira Foundation), Myra Darsi (Komnas Perempuan), Ukke R. Kosasih (The Body Shop) dan dimoderatori oleh Elida Tamalagi (penanggung jawab program bukan bioskop kinoki). Komposisi sempurna; perempuan, perempuan dan perempuan.

Tajuk utama diskusi “melihat perempuan dalam film” ini adalah membuka wawasan dan kesadaran peminat film terhadap isuisu perempuan seperti kekerasan, pelecehan seksual, perdagangan perempuan, aborsi, dll. Sangatlah pas kiranya jika kedua film tersebut dihadirkan sebagai pengantar diskusi kali ini. Kedua film tersebut kental sekali muatannya mengenai isuisu perempuan seperti yang sudah disebutkan di atas tadi.

Sesi diskusinya sendiri berjalan dengan sangat menarik dan seru. Ternyata Cerita Yogya mendapat tanggapan paling banyak. Ini terbukti dari rata-rata pertanyaan yang muncul dan dialamatkan kepada para narasumber kebanyakan mengenai Cerita Yogya. Para penanya ini menggugat pendekatan yang dilakukan oleh sutradara dan penulis skenario Cerita Yogya dalam menampilkan Jogja. Dalam komentar yang dilontarkan oleh seorang penanya menyebutkan bahwa ia merasa tidak mengenal Jogja yang digambarkan dalam Cerita Yogya. Seumurumur ia hidup di Jogja, ia tidak pernah tahu bahwa stadion Mandala Krida diperbolehkan dibuka untuk nongkrong seperti yang tertera dalam film. Hematnya, tutur teman tersebut lagi, meski cerita dalam film ini fiksi, tapi tetap saja keadaan yang terjadi dalam kenyataannya tetap harus ditampilkan sedekat mungkin dengan realitas (Mandala Krida yang tertutup untuk umum kecuali ada pertandingan sepak bola, sebagai contoh). Bukankah ada riset sebelum produksi dilakukan? Ketika riset telah dilakukan –terlepas dari seperti apapun riset tersebut, paling tidak penulis skenario, sutradara dan produser sudah memiliki gambaran mengenai apa yang hendak diceritakan, imbuh teman tersebut.

Hal lain yang terlontar dari seorang teman yang lain lagi adalah mengenai eksotisme yang coba ditawarkan dan halhal klise yang sering diulang dalam film PPC. Kenapa sih Jogja hanya disempitkan menjadi Malioboro, Plengkung Gading dan segala tetek bengek romantisme tersebut? Adakah sesuatu yang khas lainnya selain ikon tersebut? Dalam Cerita Pulau, ia tidak melihat bahwa itu memang cerita dari sebuah pulau. Apa yang ditampilkan masih sebatas klise saja.

Poin berikutnya adalah mengenai perempuan itu sendiri. Apakah benar film ini memang benar film yang memihak perempuan? Seorang teman dengan sangat berapiapi bahwa ia melihat Cerita Yogya ini adalah film tentang seks yang dilakukan oleh remaja SMU tanpa berpretensi untuk membela perempuan (Safina dkk), karena semuanya diletakkan dalam kacamata pelajar lakilaki yang telah berhasil menggilir seorang pelajar perempuan, atau seorang siswa SMU yang memerawani seorang siswi SMP. Ia tidak melihat di situ perempuan “diberi tempat” dalam scenescenenya. Kaitannya dengan riset lagi, mana ada sih, seorang remaja perempuan yang digilir dan dihamili untuk kemudian masih nongkrong bareng bersama para penggilirnya itu? Itu detail sederhana yang luput dari perhatian pihak pembuat film agaknya, ujarnya.

Diskusi menjadi semakin seru ketika di tengah acara tibatiba lampu padam dan hujan yang sesorean turun tibatiba menderas. Diskusi memanas, lampu mati, cahaya lilin dan hujan. Meski demikian, acara diskusi tetap maju jalan. Sambil berteriakteriak, para penanya dan narasumber saling memberikan komentar, jawaban dan pertanyaan.

Akhirnya diskusi ditutup dengan pernyataan bahwa terlepas dari apapun kesalahan teknis, riset yang kurang mendalam, dan hal-hal lain, film ini diharapkan mampu menyampaikan pesannya yakni beginilah perempuan di Indonesia dengan segala macam persoalannya yang tidak pernah selesai. Berpulang pada masing-masing diri kita untuk menyikapinya dan memilih keberpihakan kepadanya.

No comments: