Friday, April 25, 2008

dibalik Karya dalam Prosesnya Udien

Bulan April ini Kinoki mempersembahkan sebuah program berjudul Karya dalam Proses. Program ini bertujuan untuk mempresentasikan karya yang masih dalam tahap proses dari teman-teman pembuat film untuk ditanggapi oleh teman-teman penonton dalam sebuah ajang diskusi untuk saling menyampaikan masukan, aspirasi dan pendapat.

Karya Dalam Proses edisi pertama (Kamis, 10 April 2008 jam 19.30) memutarkan A Blues for Rainy Days (riset visual/dokumenter, 20 menit) karya Shalahuddin Siregar. Udien –demikian ia kerap dipanggil, mencoba mempresentasikan karyanya yang berkisah mengenai air, hutan, masyarakat dan negara di wilayah desa Trucuk, Klaten dan desa Genikan, Merbabu.

Didahului dengan pemutaran film, acara ini dihadiri oleh sekitar 20an penonton. Sesi diskusi dibuka dengan presentasi dari Udien mengenai dokumenternya ini. Ada apa dengan kedua desa tersebut sehingga Udien begitu tertarik untuk membuat film dokumenter tentangnya? Ketertarikan itu bermula dari adanya isu dan sosialisasi taman nasional di wilayah Merbabu yang melibatkan warga masyarakat di desa Genikan. Proses riset dari dokumenter ini sendiri sudah mulai sejak Desember 2006. terhitung sejak tanggal itu, ia sering bolak-balik merbabu jogja untuk melakukan riset data dan juga wawancara. Kemudian mengenai desa Trucuk, Klaten; ketertarikannya adalah mengenai komersialisasi air yang akan dilakukan oleh sebuah korporat besar di sana.

Hutan dan air merupakan hak hidup rakyat. Lalu bagaimana jika negara dan perusahaan besar mulai masuk ke dalam kehidupan mereka sehari-hari? Negara yang seharusnya mengayomi rakyatnya tapi tidak pada kenyataannya. Lalu bagaimana nasib para petani yang mengandalkan air untuk mengairi sawah mereka dan memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari jika sumber sudah dikuasai oleh korporat? Ini adalah titik tolak permasalahan yang diusungn dan alasan di balik pembuatan dokumenter ini. .

Dokumenter ini baru selesai sekitar 25 % . menurut Udien sendiri, kemungkinan besar untuk berubah seiring dengan temuan baru di lapangan, masukan dari teman-teman diskusi. Dalam menggarap karyanya ini, Udien tidak dibantu oleh siapapun. Artinya ia melakukan semuanya sendiri

Pada sesi tanya jawab, ternyata banyak sekali pertanyaan, komentar, masukan, kritik yang terlontar. Diskusi sendiri berjalan dengan dinamis dan mengalir. Secara garis besar pertanyaan, masukan dan pernyataan para peserta diskusi dapat dikelompokkan dan disusun sebagai berikut:

1.pembuat film hendak bicara apa dengan menggarap film ini?statement pembuat film?
Bicara mengenai muatan film dan hendak bicara apa dengan filmnya, Udien menuturkan bahwa ia ingin orang tahu bahwa air merupakan hak yang bisa dinikmati oleh orang banyak tanpa terkecuali. Dan bukan hanya segelintir orang saja yang notabene adalah korporat, yang tentu saja menarik banyak keuntungan dari komersialisasi air ini. Negara harus melindungi sumber daya air dan hutan ini demi kepentingan masyarakat banyak

2.apakah film ini memiliki keberpihakan? Lalu pada siapa film ini berpihak?
Pertanyaan datang dari salah seorang teman yang mengatakan bahwa sebuah film dokumenter harus memiliki titik pijakan keberpihakan sebagai arah mau dikemanakan filmnya nantinya. “Pilih pahlawan anda!” demikian ujarnya.

3.pendekatan apa yang dipakai dalam film ini?
Dalam menggarap filmnya ini, Udien tidak mendasarkan diri terhadap pendekatan atau gaya yang baku, entah itu verité atau etnografis. Ia memakai apapun sesuai dengan realita dan fakta yang ditemukan di lapangan seiring dengan proses.

4.apa yang hendak disampaikan kepada penonton ketika film ini sudah dilepas kepada masyarakat luas?
Pertanyaan ini hampir sama dengan pertanyaan no.1 dan 2. bahwa sebuah film dokumenter harus memiliki keberpihakan dan mampu menyampaikan muatan yang diusungnya kepada masyarakat luas sebagai penontonnya. Dalam hal ini Udien menginginkan bahwa ketika filmnya diputar dan ditonton masyarakat luas, ada kesadaran bahwa persoalan mengenai air dan hutan bukanlah masalah yang bisa diurusi sendiri. Melainkan membutuhkan bantuan-bantuan dari pihak-pihak yang memiliki kuasa yang lebih besar untuk bisa menyelesaikannya –dalam hal ini adalah negara.

5.sekarang bicara tentang masalah teknis: bagaimana gambarnya? Apakah mampu “berbicara banyak kepada penonton?” tidak ada keterikatan konteks antara gambar dengan keseluruhan cerita. Selain itu gambar kurang “mengganggu”. Gambar yang ditampilkan lebih mirip gambar-gambar kartu pos yang menjual keeksotisan persawahan indonesia. Bagaimana penonton bisa tahu bahwa gambar diambil di daerah Merbabu? Toh semua sama saja, ada gunung, ada sawah. Bisa jadi gambar diambil di daerah lain. Bagaimana penonton bisa mengetahui bahwa itu benar terjadi di Merbabu? Intinya tidak adanya keterikatan antara gambar yang ditampilkan dengan konteks keseluruhan cerita.

6.lalu mengenai judul: A Blues for Rainy Days, adakah keterkaitan dengan musik blues? Kemudian mengingat air begitu dibutuhkan petani terutama pada musim kemarau, bagaimana visualisasi musim kemarau dalam film ini?
Mengenai judul, blues dalam sejarahnya adalah musik orang kulit hitam yang menyimbolkan perlawanan terhadap perbudakan. Harapan Udien, film ini bisa mencerminkan sebuah perlawanan (tidak perlu dalam skala besar) terhadap komersialisasi air yang terjadi di dua desa tersebut. Paling tidak mencerminkan kegelisahan dari para penduduk desa akan adanya isu komersialisasi air tersebut. Kemudian mengenai visualisasi musim kemarau tersebut, memang sampai saat ini, ia belum berhasil mendapatkan gambar musim kemarau. Mungkin bulan-bulan depan ini ia akan mulai shooting untuk musim kemarau.

7. film dokumenter ini hanya sekedar visualisasi wawancara dan tidak dialektis. Apakah Udien hanya mewancarai pihak masyarakat saja –dalam kasus Genikan-? Lalu bagaimana dengan pihak pemerintah?
Menurut Udien, dalam proses ke depannya nanti, akan dimasukkan juga wawancara dari pihak-pihak lain yang terkait dengan permasalahan ini. Mengingat proses berkarya ini masih sekitar 25%, maka sangat terbuka untuk banyak perubahan dalam riset data dan wawancara.

Diskusi kali ini ditutup dengan ucapan terima kasih dari Udien atas masukan dan kritikan dari semua teman yang hadir dalam diskusi. Semua masukan sangatlah berharga untuk kemajuan proses pembuatan film ini ke depannya. Dari 25% menjadi 100%.

Selamat melanjutkan proses berkarya Dien...

kartika wijayanti

No comments: