Apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata “dokumenter”? membosankan, seram, tidak menarik, berat. Bisa jadi itu yang muncul ketika orang-orang awam ditanyai pendapatnya mengenai film dokumenter. Tidak bisa disalahkan, karena biasanya memang seperti itulah adanya. Dokumenter hampir selalu mengusung tema yang berat dan penerjemahannya dalam bahasa gambar pun rentan mengarah ke dalam kebosanan. Tapi sebelum berpanjang lebar mengenai segala macam label tersebut, ada baiknya melihat koleksi film pendek dan segar yang diputar di Kinoki pada Sabtu, 5 April 2008 kemarin. Mungkin setelah melihat tiga film dokumenter ini, premis awal menonton dokumenter yang selama ini terbangun, bisa berubah.
Untuk acara Pendekar April ini, Kinoki menyuguhkan tiga film dokumenter kerja sama dengan The Marshall Plan dan Konfiden, yang bermodalkan kreativitas, kepekaan serta kejelian untuk kemudian menjadikannya sesuatu yang berbeda.
1.Andy Bertanya (Andy, 2002/14 menit)
Kita akan menemukan bagaimana pengusaha kecil di Jakarta mengatasi persoalan pemasaran produknya. Yang menarik dari film dokumenter ini adalah cara berceritanya. Seseorang menelepon sebuah biro jasa penyedia pembantu rumah tangga, kemudian terlibat percakapan. Sementara gambar yang ditampakkan adalah potonganpotongan gambar yang diam, yang ditata sedemikian rupa sehingga tampil menarik. Premis membosankan cukuplah tertonjok dengan cara penyampaian film ini.
2.Slambangricketychuck (Tintin Wulia, 2002/7 menit)
Komposisi suarasuara pintu. Buka-tutup, tutup-buka. Bagaimana bunyinya? Mungkin banyak diantara kita yang tidak terlalu memperhatikan bagaimana suara pintu ketika dibuka, ditutup, dibanting, diketuk. Ternyata di tangan Tintin Wulia semua itu menjadi sebuah komposisi yang menarik. Sebuah kejelian dan kreativitas, sekali lagi dalam cara penyampaian dan ide.
3.Anarchist Cookbook for Beginner (Dimas Jayasrana, 2007/18 menit)
Percakapan mengenai ideologi yang mendayudayu di sebuah kereta api yang hiruk pikuk dan penuh dengan kata “pop”, “anjing”, “punk tidak akan pernah mati”, “anarki”. Spontan, jeli memanfaatkan momentum dan menarik itulah premis mengenai percakapan mengenai ideologi ini.
Dari sisi penonton, pemutaran PENDEKar April ini mencatat jumlah 15 orang yang datang untuk menonton suguhan kali ini. Filmfilm yang diputar ternyata mengundang apresiasi yang cukup baik dari penonton. Ini terbukti dari komentarkomentar spontan penonton ketika film diputar.
Film pertama (sesuai urutan di atas), Andy Bertanya, mengundang banyak tawa penonton, khususnya ketika si penelepon (Andy?) menelepon ke banyak perusahaan penyedia jasa; dari jasa pembantu rumah tangga sampai kursus menggambar. Pertanyaanpertanyaan yang dilontarkan oleh si penelepon inilah yang mengundang tawa banyak penonton. Apa yang disajikan menjadi begitu keseharian dengan penonton. Dekat.
Film kedua, membuat penonton berkerut. Kalau pada film pertama, penonton masih bisa berkomentar. Pada film kedua ini kebanyakan penonton terdiam. Mencerna mungkin. Maksudnya apa sih? Bunyi pintu yang ditutup dan kadang kala dibanting itu, pada awalnya tidak ramah di telinga. Menimbulkan kesan mengganggu tapi setelah berjalan beberapa saat, baru ketahuan nada dan ritmenya dan lebih enak untuk diikuti.
Film ketiga, cukup mendapat tanggapan dari penonton. Antara lain karena kenaifan(?) para punkers yang menjadi subjek cerita video ini. berapiapi sekaligus mendayudayu. Hal itu mengundang senyum atau komentar seperti: “aduuuuhhh, ya ampun, sing bener wae mas”. Apapun komentarnya, hal itu tetap merupakan sebentuk ekspresi dari pengalaman menonton itu sendiri.
Masihkah dokumenter dianggap sebagai makhluk yang membosankan? Well, itu berpulang pada penonton semua. Sampai jumpa di pendekar bulan depan...
kartika wijayanti
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment